IYA, AKU PERGI.
Menyesap teh pagi menjadi hal yang aku benci. Iya, ada jejakmu.
Apa yang menjadi jalan kenangan kita begitu membuat aku terjebak dalam semunya angan angan yang kian menyeruak. Aku tidak tahan untuk tidak mengatakannya.
Menyerah pada kata rindu yang terucap, meski tau kamu tidak akan pernah mendengarnya. Iya, aku rindu.
Berjaraknya raga tidak menjadi tameng sebuah rasa. Naif jika aku kata itu tidak ada. Tapi, kesadaranku kembali.
Kamu bilang kita berbeda. Dan sebab itulah mungkin tanah tandus itu yang memeluk biji rasa yang aku jatuhkan. Kering, tidak akan pernah tumbuh.
Kata tak kau ucap, tapi jelas ragamu berbuat. Kamu bilang anak pertama itu perasa, namun memilih diam dan menunggu. Iya, tapi aku tidak.
Aku ungkapkan semua rasa yang menggelayut sendu. Kubiarkan menyeruak, kubiarkan menemui pemiliknya tapi, tidak denganmu.
Untuk rasa yang pernah tumbuh, tidak ada sesal ia mati. Memanglah dikata benar bahwa pergi adalah pulang. Namun pergi kali ini bukan pulang padamu, tetapi pada rumah baru.
Iya, aku pergi.

Saya kira belum di aplud
BalasHapus