Langsung ke konten utama

Miskin Rasa

 


MISKIN RASA

Sekumpulan orang-orang beruntung yang kurang melek rasa. Jika dipikir secara logika kalian termasuk sekumpulan orang yang beruntung. Makanan dan minuman diberikan secara gratis,tempat tidur nyaman dengan fasilitas yang memadai tanpa PUNGLI disini seharusnya kalian belajar, menuntut ilmu dan belajar bersosialisasi dengan orang lain.

Tumbuhkan rasa mandiri ,peduli dan empati. Mengembangkan rasa percaya diri agar bisa meraih apa  yang diinginkan, tapi Apa? Saya sungguh bingung kenapa kalian malah buta rasa, rasa kepedulian yang minim,tapi ego terus berkembang. Kalian hanya pandai bicara namun tak ada buktinya (bullshit) kalian hanya ingin dihargai tapi lupa bahwa kalian harus juga menghargai, mereka terlalu pandai menggunjing dibelakang tapi tak berani bicara didepan.

Rasa gengsi yang tinggi membuat kalian selalu ingin menang sendiri hingga membuat banyak kata untuk perlindungan diri, tak mau mengaku salah padahal sudah terbukti salah. Bahkan diantara mereka ada yang selalu berbuat baik hanya untuk sebuah gelar  “si anak baik” bodohnya mereka, benar-benar tak punya hati dan ingin selalu menang sendiri. Kalian adalah Si Miskin rasa namun Kaya Kata. Kumpulan orang makmur yang tak mau bersyukur.

Saya sunggung binggung dengan keadaan seperti ini,dibilang lucu ya lucu, tapi sayangnya tidak sesuai dengan Dasar Negara. Ditempat yang hanya menampung puluhan orang bahkan didedikasikan untuk orang yang beruntung.

 Bahkan mereka dididik , direhabilitasi untuk menjadi lebih baik,harapan orang tua tapi bullshit(sebagian bullshit hitungan jari perfact). Menurutku si karena saya bagian dari puluhan orang beruntung tersebut. Banyak sekali orang yang sudah lama tinggal disinggasana ini tapi belum bisa mengolah rasa, mirisnya tak ada kawan , selalu ingin menang dan miskin rasa (toleransi dan kemanusiaan). Puluhan dari mereka memang tak semuanya begitu tapi banyak yang belagu ditambah lagi orang baru.

Rasa itu sangat penting,bagaimana kita bisa hidup berdampingan kalau miskin rasa. Sering saya jumpai makhluk yang tinggi rasa,tapi tidak sesuai dengan perilakunya, wah kalau sudah begini hati-hati penyakit yang sulit disembuhkan. Biasanya makhluk seperti itu hanya ingin dibilang WOW! KEREN! .

Memang benar hidup itu dinamis dan watak setiap orang berbeda-beda karena mereka menggunakan topeng. Topeng berbalut emas yang hanya elok dimata tak boleh dipakai seorang pria. Kasian sekali makhluk yang tidak tau mana yang benar dan mana yang salah. Sungguh singgasana ini penuh dengan kemiskinan rasa, dan orang yang bisa milihatnya bisa tertawa lepas seperti melihat  sebuah drama.

Wahai para makhluk yang beruntung kau ini sebenarnya sangat mulia, hanya saja tingkah lakumu yang sembrana. Mari tumbuhkan rasa, rasa yang begitu ikhlas akan menumbuhkan makhluk-makhluk yang KAYA RASA.

 

“Tempat ini tidak kekurangan orang pintar, tidak kekurangan orang yang jenius dan berbakat, tapi tempat ini kekurangan orang yang jujur, peduli dan bertanggung jawab.”

Komentar

  1. Bahwasanya hidup itu perlu bercermin pada diri sendiri, perlu menoleh ke depan dan belakang, sementara yang susah kaya akan sebuah rasa, simpati dan empati sedang yang semang justru lupa akan caranya bersyukur...

    Semangat uut sayangg 😍 jadilah salah satu di antara mereka yang memiliki bakat

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

hakikat hidup ikan cupang

  Hakekat hidup ikan cupang Bahwa sebetulnya hewan lebih tau atau lebih paham tujuan hidupnya ketimbang manusia. Lhoo.. kok bisa.?! Yaa... lihat saja fenomena yg ada saat ini, manusia bingung ingin menjadi apa, cita citanya apa dan tujuan hidupnya apa tak jelas seperti air diatas daun talas, kata pepatah Jerman demikian. " lihat ikan cupang itu ber, dia tau dan paham betul dirinya ingin menjadi apa dan tugasnya apa.?! Dia menjalankan hidupnya sebagai ikan, ya... berenang mondar mandir dengan segala kebebasan, kemerdekaan dirinya, waktunya makan dia makan, waktunya minum dia pasti minum, cengab cengob entah itu memuja kepada sang penciptanya atau apa kita tak mesti tahu bahasa ikan, karna kita bukan Kanjeng Nabi Sulaiman. Dan tentu saja dia menjadi ikan cupang yang baik hati, tidak mungkin dia ingin menjadi marmut atau tikus. " Begitulah tutur Wahono sambil ngudud . Sontak ke empat temanya mlongo terdiam dan merenung keras.  Pada malam jumat tepatnya, ke lima bujang lapuk t...

Iya, Aku pergi

  IYA, AKU PERGI. Menyesap teh pagi menjadi hal yang aku benci. Iya, ada jejakmu. Apa yang menjadi jalan kenangan kita begitu membuat aku terjebak dalam semunya angan angan yang kian menyeruak. Aku tidak tahan untuk tidak mengatakannya.  Menyerah pada kata rindu yang terucap, meski tau kamu tidak akan pernah mendengarnya. Iya, aku rindu.  Berjaraknya raga tidak menjadi tameng sebuah rasa. Naif jika aku kata itu tidak ada. Tapi, kesadaranku kembali.  Kamu bilang kita berbeda. Dan sebab itulah mungkin tanah tandus itu yang memeluk biji rasa yang aku jatuhkan.  Kering, tidak akan pernah tumbuh. Kata tak kau ucap, tapi jelas ragamu berbuat. Kamu bilang anak pertama itu perasa, namun memilih diam dan menunggu. Iya, tapi aku tidak.  Aku ungkapkan semua rasa yang menggelayut sendu. Kubiarkan menyeruak, kubiarkan menemui pemiliknya tapi, tidak denganmu.  Untuk rasa yang pernah tumbuh, tidak ada sesal ia mati. Memanglah dikata benar bahwa pergi adalah pulang. N...